Nilai Kemanusiaan dalam Sastra Lisan Didong dan Peri Mestike Gayo
User Icon  Marlina  user 21 September 2026. dibaca : 39. Kontributor : Marlina
Nilai Kemanusiaan dalam Sastra Lisan Didong dan Peri Mestike Gayo Gambar : Nilai Kemanusiaan dalam Sastra Lisan Didong dan Peri Mestike Gayo (Ai)
el-ADRIn -

Masyarakat Gayo mewariskan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur bukan melalui kitab tebal atau hukum tertulis yang kaku, melainkan melalui denyut tuturan lisan yang mengalir dari generasi ke generasi. Di tengah peradaban dataran tinggi yang sejuk, tradisi lisan hidup sebagai cerminan jiwa masyarakatnya, tempat kearifan lokal berpadu dengan ajaran moral yang mendalam. Di antara sekian banyak warisan budaya lisan yang dimiliki, Didong dan Peri Mestike berdiri sebagai dua pilar utama yang mengajarkan bahwa kualitas seorang manusia tercermin secara utuh dari tutur kata, sikap, dan bagaimana ia memperlakukan sesamanya.

Didong hadir bukan sekadar sebagai bentuk kesenian atau hiburan rakyat, melainkan sebagai panggung kebudayaan yang menghidupkan kebersamaan. Dengan mengombinasikan keindahan suara, gerak tubuh yang selaras, serta ritme tepukan tangan di atas bantal kecil, para seniman Didong menyajikan pertunjukan yang memikat sekaligus mencerahkan. Sejak masa penjajahan hingga era modern, pementasan ini kerap berfungsi sebagai ruang dakwah, penyampaian pesan sosial, hingga kritik politik yang disampaikan dengan balutan sastra tinggi. Kehebatan Didong terletak pada kemampuannya menyampaikan nasihat religius, pendidikan moral, dan teguran tanpa terkesan menggurui. Nilai kemanusiaan di dalamnya berpijak pada semangat gotong royong, kebersamaan yang meleburkan batasan sosial dalam satu arena, serta tradisi kritik santun yang menjunjung tinggi martabat manusia. Melalui Didong, kebenaran disuarakan dengan seni, membuktikan bahwa seni lisan mampu menjadi penjaga nurani publik.

Jika Didong berbicara dalam kebersamaan ruang publik, maka Peri Mestike bekerja secara lebih sunyi di dalam ruang privat sebagai pedoman hidup sehari-hari. Peri Mestike adalah sekumpulan tuturan bijak, peribahasa, dan ungkapan tradisional yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan adat istiadat Gayo. Ajaran ini sarat akan pengingat moral, salah satunya melalui larangan yang dikenal sebagai sumang peceraken, sebuah konsep etika bertutur yang melarang seseorang berbicara melanggar batas kesopanan adat dan syariat. Konsep ini menanamkan kesadaran mendalam bahwa setiap kata yang diucapkan memiliki bobot dan konsekuensi moral demi menjaga keharmonisan serta rasa hormat dalam kehidupan bermasyarakat. Peri Mestike mendidik individu untuk senantiasa menimbang rasa sebelum berucap, menjadikan lisan sebagai alat untuk merajut persaudaraan, bukan memecah belah.

Apabila kedua warisan ini dibaca secara berdampingan, terlihat jelas bagaimana keduanya saling melengkapi dalam membentuk ekosistem moral masyarakat Gayo. Didong menjaga kewarasan dan nurani kolektif di ruang publik, sementara Peri Mestike menempa kehalusan etika dan integritas pribadi di ruang keluarga serta keseharian. Sayangnya, arus globalisasi dan dominasi hiburan digital saat ini membuat tradisi lisan tersebut perlahan memudar, terdesak oleh budaya instan yang kian menjauhkan generasi muda dari akar kulturalnya.

Oleh karena itu, upaya pelestarian sastra lisan ini tidak boleh berhenti pada pementasan seremonial semata yang hanya digelar pada acara-acara besar. Dibutuhkan langkah nyata yang menyentuh akar pendidikan, seperti mengintegrasikan nilai-nilai Peri Mestike dan Didong ke dalam kurikulum muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembiasaan karakter di sekolah-sekolah. Dengan cara inilah, generasi muda Gayo tidak hanya mengenal budayanya sebagai sejarah masa lalu, tetapi mampu menghidupkan kembali pesan moralnya, merawat kepekaan batin, dan menjaga agar ketulusan tutur kata tetap menjadi identitas yang membanggakan di tengah zaman yang terus berubah.

 


Tag :

TAG-LINE :

Pendidikan Modern  Pendidikan Karakter  Generasi Muda  Berakhlak Mulia  Kebiasaan Belajar  Generasi Emas  Isu Pendidikan  Kualitas  Akhlak Mulia  Prestasi Akademik  Didong  Stop Bullying  Inovasi Pendidikan  Kejujuran Pendidikan  Pemerataan Pendidikan  Sarjana  Integritas  Karakter Muslim  Generasi Z  Pendidikan Moral  Degradasi Empati  Disiplin  Karakter Islami  Etika Digital  Gayo  Pendidikan  Pendidikan Digital  Toleransi  Reformasi Pendidikan  Belajar Efektif  Daya Ingat  Tips Belajar  Mukemel  Dan Etika Digital.  Etik Profesi  Kuliah  Pembelajaran Digital  Nilai Kemanusiaan  Metode Belajar  Motivasi Belajar  Transformasi Pendidikan  Karakter Anak  Sosiologi Pendidikan  Nilai Agama  Humanisme Pendidikan  Etika Pendidikan  Sains Kognitif  Dilema Etika  Kecerdasan Buatan  Peduli Lingkungan  Peran Keluarga  Sumber Daya Manusia  Media Pembelajaran  Kearifan Lokal Gayo  Transformasi Digital  Chatbot  Belajar Mandiri  *Guru  Strategi Belajar  Kurikulum  Pemanfaatan Teknologi  Active Recall  Internalisasi Nilai  Kurikulum Pendidikan  Guru Profesional  Pembelajaran  Edukasi Digital  Inovasi Pembelajaran  Orang Tua  Perkembangan Teknologi  Teknologi Pendidikan  Masyarakat Gayo  Sastra Lisan  Untuk Meningkatkan  Wisuda  Generasi Qurani  Etika Guru  Kebijakan Pendidikan  Pendidikan Berintegritas.  Digitalisasi Pendidikan  AI Dalam Pendidikan  Peri Mestike  Kolaborasi  Pendidikan Masa Depan  Peran Guru  Pemuda Islam  Pelajar  Literasi Digital  Kesejahteraan Guru  Pendidikan Indonesia  Spaced Repetition  Dunia Pendidikan  Integritas Guru  Investasi Masa Depan  Gotong Royong  Strategi Mengajar  Pendidikan Masa Kini  Dakwah Digital  Pengembangan Diri  Pendidikan Tinggi  Empati Pendidikan  Teknik Belajar  Krisis Moral  Pendidikan Agama Islam  Keadilan Pendidikan  Religius  Kampus  Kualitas Pendidikan