Gambar : Nilai Kemanusiaan dalam Sastra Lisan Didong dan Peri Mestike Gayo (Ai)
Masyarakat Gayo mewariskan nilai-nilai kemanusiaan yang luhur bukan melalui kitab tebal atau hukum tertulis yang kaku, melainkan melalui denyut tuturan lisan yang mengalir dari generasi ke generasi. Di tengah peradaban dataran tinggi yang sejuk, tradisi lisan hidup sebagai cerminan jiwa masyarakatnya, tempat kearifan lokal berpadu dengan ajaran moral yang mendalam. Di antara sekian banyak warisan budaya lisan yang dimiliki, Didong dan Peri Mestike berdiri sebagai dua pilar utama yang mengajarkan bahwa kualitas seorang manusia tercermin secara utuh dari tutur kata, sikap, dan bagaimana ia memperlakukan sesamanya.
Didong hadir bukan sekadar sebagai bentuk kesenian atau hiburan rakyat, melainkan sebagai panggung kebudayaan yang menghidupkan kebersamaan. Dengan mengombinasikan keindahan suara, gerak tubuh yang selaras, serta ritme tepukan tangan di atas bantal kecil, para seniman Didong menyajikan pertunjukan yang memikat sekaligus mencerahkan. Sejak masa penjajahan hingga era modern, pementasan ini kerap berfungsi sebagai ruang dakwah, penyampaian pesan sosial, hingga kritik politik yang disampaikan dengan balutan sastra tinggi. Kehebatan Didong terletak pada kemampuannya menyampaikan nasihat religius, pendidikan moral, dan teguran tanpa terkesan menggurui. Nilai kemanusiaan di dalamnya berpijak pada semangat gotong royong, kebersamaan yang meleburkan batasan sosial dalam satu arena, serta tradisi kritik santun yang menjunjung tinggi martabat manusia. Melalui Didong, kebenaran disuarakan dengan seni, membuktikan bahwa seni lisan mampu menjadi penjaga nurani publik.
Jika Didong berbicara dalam kebersamaan ruang publik, maka Peri Mestike bekerja secara lebih sunyi di dalam ruang privat sebagai pedoman hidup sehari-hari. Peri Mestike adalah sekumpulan tuturan bijak, peribahasa, dan ungkapan tradisional yang berakar kuat pada nilai-nilai keislaman dan adat istiadat Gayo. Ajaran ini sarat akan pengingat moral, salah satunya melalui larangan yang dikenal sebagai sumang peceraken, sebuah konsep etika bertutur yang melarang seseorang berbicara melanggar batas kesopanan adat dan syariat. Konsep ini menanamkan kesadaran mendalam bahwa setiap kata yang diucapkan memiliki bobot dan konsekuensi moral demi menjaga keharmonisan serta rasa hormat dalam kehidupan bermasyarakat. Peri Mestike mendidik individu untuk senantiasa menimbang rasa sebelum berucap, menjadikan lisan sebagai alat untuk merajut persaudaraan, bukan memecah belah.
Apabila kedua warisan ini dibaca secara berdampingan, terlihat jelas bagaimana keduanya saling melengkapi dalam membentuk ekosistem moral masyarakat Gayo. Didong menjaga kewarasan dan nurani kolektif di ruang publik, sementara Peri Mestike menempa kehalusan etika dan integritas pribadi di ruang keluarga serta keseharian. Sayangnya, arus globalisasi dan dominasi hiburan digital saat ini membuat tradisi lisan tersebut perlahan memudar, terdesak oleh budaya instan yang kian menjauhkan generasi muda dari akar kulturalnya.
Oleh karena itu, upaya pelestarian sastra lisan ini tidak boleh berhenti pada pementasan seremonial semata yang hanya digelar pada acara-acara besar. Dibutuhkan langkah nyata yang menyentuh akar pendidikan, seperti mengintegrasikan nilai-nilai Peri Mestike dan Didong ke dalam kurikulum muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, serta pembiasaan karakter di sekolah-sekolah. Dengan cara inilah, generasi muda Gayo tidak hanya mengenal budayanya sebagai sejarah masa lalu, tetapi mampu menghidupkan kembali pesan moralnya, merawat kepekaan batin, dan menjaga agar ketulusan tutur kata tetap menjadi identitas yang membanggakan di tengah zaman yang terus berubah.
| Tag | : |
21 September 2026.
dibaca : 39.
Kontributor : 
21 Mei 2026. 


Pendidikan Modern