Tragedi Satu Juta Toga, Kegagalan Negara Melindungi Tunas Bangsa
User Icon  Rizka Adiatmadja  user 21 Juli 2026. dibaca : 111. Kontributor : Bastiar
Tragedi Satu Juta Toga, Kegagalan Negara Melindungi Tunas Bangsa Gambar : Tragedi Satu Juta Toga, Kegagalan Negara Melindungi Tunas Bangsa

el-ADRIn - Ada yang pulang dari kampus membawa toga di kepala dan doa panjang dari orang tua di dada. Bertahun-tahun mereka duduk di ruang kuliah, menahan kantuk, mengejar tugas, menyelesaikan skripsi, dan membayar biaya pendidikan dengan harapan sederhana bahwa kelak ilmu itu menjadi jalan menuju kehidupan yang lebih baik.

Namun ketika wisuda usai, tepuk tangan mereda, bunga layu, dan foto toga berganti menjadi tumpukan lamaran kerja, sebagian dari mereka justru menemukan gerbang yang tak kunjung terbuka. Di rumah, ijazah disimpan rapi, sementara harapan perlahan menjadi kecemasan.

Satu juta sarjana menganggur bukan sekadar angka dalam tabel statistik. Di balik setiap angka ada anak bangsa, keluarga yang pernah berkorban, usia produktif yang sedang menunggu kesempatan untuk mengabdikan ilmu. Ketika sebuah negara mampu mencetak jutaan lulusan, tetapi gagal menyediakan ruang yang layak bagi mereka untuk berkarya, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya pekerjaan, tetapi masa depan generasi.

Satu Juta Sarjana dan Janji Lapangan Kerja

Persoalan sarjana menganggur bukan fenomena yang tiba-tiba muncul. Data yang dipaparkan Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menunjukkan sekitar 1,01 juta lulusan universitas berada dalam kondisi menganggur, dari total sekitar 7,28 juta penganggur berdasarkan data BPS Februari 2025. Angka tersebut menunjukkan bahwa pendidikan tinggi belum otomatis berbanding lurus dengan kesempatan memperoleh pekerjaan.(detikFinance.com, 3 Juli 2025)

Hal yang lebih mengkhawatirkan, problemnya bukan semata-mata jumlah sarjana. Struktur ekonomi juga belum mampu menyediakan lapangan kerja formal dalam jumlah dan kualitas yang sepadan dengan pertumbuhan angkatan kerja. Data terbaru BPS yang diberitakan sejumlah media pada Agustus 2026 memang menunjukkan jumlah pengangguran nasional sekitar 7,22 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka 4,65 persen pada Mei 2026.
 
Namun, rendahnya angka pengangguran secara agregat tidak otomatis berarti rakyat telah memperoleh pekerjaan yang layak dan sesuai kompetensi. Lulusan SMK bahkan masih menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran terbuka tertinggi. (Trenasia.com, 6 Agustus 2026)

Di Jawa Barat, persoalan itu semakin terasa ketika mahasiswa dan masyarakat mempertanyakan janji penciptaan 19 juta lapangan pekerjaan. Program-program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) maupun Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) memang diharapkan menciptakan aktivitas ekonomi dan lapangan kerja, tetapi persoalannya adalah apakah pekerjaan yang lahir benar-benar sebanding dengan jumlah pencari kerja dan apakah sesuai dengan kompetensi lulusan perguruan tinggi?

Ketika lulusan sarjana berdesakan di job fair, sementara lowongan yang tersedia terbatas dan sebagian tidak sesuai dengan bidang keilmuan, maka persoalannya sudah lebih dalam daripada sekadar kurangnya keterampilan individu. Fenomena ini bahkan sampai mengubah wajah keluarga.

Pencari kerja bukan lagi selalu anak muda yang datang sendiri membawa map lamaran. Orang tua ikut mengantar, menunggu, bahkan membantu menopang kehidupan anak yang belum kunjung mendapatkan pekerjaan. Kompas menggambarkan realitas tersebut dalam pemberitaan tentang orang tua yang ikut menanggung anaknya ketika mencari pekerjaan. (Kompas.com, 6 Agustus 2026)

Ketika Ekonomi Tumbuh, tetapi Pekerjaan Lumpuh

Inilah paradoks yang patut dibongkar,  ekonomi dapat tumbuh, tetapi kehidupan rakyat belum tentu membaik. Pertumbuhan ekonomi yang ditampilkan melalui angka Produk Domestik Bruto tidak otomatis menjelaskan apakah setiap individu mampu memenuhi kebutuhan pokoknya, apakah seorang ayah mampu menghidupi keluarganya, apakah seorang sarjana dapat mengembangkan keilmuannya, atau apakah seorang pekerja dapat mempertahankan pekerjaannya?

Kompas bahkan menggunakan istilah jobless growth untuk menggambarkan situasi ketika pertumbuhan ekonomi tidak berjalan seiring dengan penciptaan kesempatan kerja. (Kompas.com, 4 Agustus 2026)

Di sinilah kita perlu berani melihat akar persoalan bahwa  kapitalisme sekuler menempatkan pertumbuhan ekonomi dan akumulasi modal sebagai salah satu orientasi utama pembangunan. Keberhasilan ekonomi lebih mudah dibaca melalui angka pertumbuhan, investasi, produksi, dan keuntungan, sementara kesejahteraan manusia sering menjadi akibat yang diharapkan akan mengikuti dengan sendirinya.

Padahal, tidak selalu demikian. Perusahaan dalam kapitalisme pada dasarnya bergerak berdasarkan kepentingan efisiensi dan keuntungan. Ketika biaya tenaga kerja dianggap terlalu tinggi, otomatisasi dianggap lebih menguntungkan, atau kondisi pasar menurun, PHK menjadi pilihan rasional bagi korporasi. Negara kemudian sering berada pada posisi sebagai regulator yaitu membuat aturan, mengawasi, memberi insentif, dan berharap sektor swasta menciptakan pekerjaan. Akibatnya, ketika pasar tidak mampu menyerap tenaga kerja, rakyatlah yang menanggung dampaknya.


Tag :
Kontributor : Bastiar
Penulis : Rizka Adiatmadja
Sumber Artikel : Kompasiana

TAG-LINE :

Etika Digital  Etik Profesi  Metode Belajar  Pelajar  Investasi Masa Depan  Berakhlak Mulia  Nilai Kemanusiaan  Internalisasi Nilai  Dan Etika Digital.  Kurikulum Pendidikan  Kearifan Lokal Gayo  Karakter Islami  Peran Guru  Pendidikan Digital  Gotong Royong  Pendidikan  Karakter Muslim  Peduli Lingkungan  Disiplin  Generasi Qurani  Didong  Etika Pendidikan  Degradasi Empati  Dunia Pendidikan  Integritas Guru  Reformasi Pendidikan  Pendidikan Berintegritas.  Pendidikan Tinggi  Pendidikan Karakter  Empati Pendidikan  Wisuda  Sains Kognitif  Kualitas  Masyarakat Gayo  Stop Bullying  Dakwah Digital  Kejujuran Pendidikan  Generasi Muda  Literasi Digital  Kuliah  Kecerdasan Buatan  Pengembangan Diri  Karakter Anak  Nilai Agama  Gayo  Pendidikan Masa Depan  Pendidikan Indonesia  Edukasi Digital  Sumber Daya Manusia  Krisis Moral  Sastra Lisan  Pendidikan Masa Kini  Pendidikan Moral  Kualitas Pendidikan  Digitalisasi Pendidikan  Toleransi  Isu Pendidikan  Kolaborasi  Belajar Efektif  Teknik Belajar  Perkembangan Teknologi  Transformasi Digital  Kesejahteraan Guru  Pendidikan Modern  Media Pembelajaran  Peri Mestike  Pemerataan Pendidikan  Pembelajaran Digital  Sosiologi Pendidikan  AI Dalam Pendidikan  Kebijakan Pendidikan  Spaced Repetition  Kebiasaan Belajar  Religius  Transformasi Pendidikan  Pembelajaran  Tips Belajar  Daya Ingat  Orang Tua  Motivasi Belajar  Inovasi Pembelajaran  Inovasi Pendidikan  Mukemel  Integritas  Sarjana  Chatbot  Belajar Mandiri  Strategi Mengajar  Untuk Meningkatkan  *Guru  Keadilan Pendidikan  Peran Keluarga  Strategi Belajar  Pemuda Islam  Pendidikan Agama Islam  Humanisme Pendidikan  Kampus  Kurikulum  Generasi Emas  Guru Profesional  Etika Guru  Prestasi Akademik  Generasi Z  Akhlak Mulia  Pemanfaatan Teknologi  Teknologi Pendidikan  Active Recall  Dilema Etika